TENTANG SAKIT GIGI

Sakit-GigiHari berganti hari, lambat laun umurku kian menua. Merontokkan satu demi satu bulu-bulu halus di tubuhku. Tenagaku mulai lemah, kulit ini tak lagi kencang seperti tatkala muda dulu. Satu hal yang membuat aku terjaga, gigi ini kian tak bersahabat.

Kala muda dulu, tak pernah aku berfikir semua akan seperti ini. Kugunakan gigi ini semau jiwa mudaku. Kumakan semua makanan panas, sejurus kemudian kuminum minuman dingin. Semua itu tak pernah aku pikirkan bahwa akan berakibat seperti ini.

Ku ingat waktu itu dunia ini terasa begitu damai. Sore yang sangat cerah, mentari nampak mulai turun dengan indahnya. Tak pernah kulihat mentari bersinar seindah itu. Burung-burung begitu indah berkicau seakan berkata “ini adalah hari terindah sepanjang hidupku”. Orang-orang lalu lalang dengan segala keramahannya. Bahkan air yang mengalir di parit-parit dekat rumahku seakan merangkai nada yang begitu syahdu. Namun ternyata semua itu hanya sekejap.

Pipi ini meronta. Rahangku bergolak. Gusi ini menangis. Seluruh tubuhku seperti ikut meringis seakan seirama merasakan kesakitan yang sungguh luar biasa ini. Tak pernah rasanya kurasakan sakit sesakit ini. Bahkan diputuskan kekasih ketika sedang sayang-sayangnya, rasanya tak sesakit ini.

Aku coba cari sesuatu untuk meredam segala kesakitan ini. Ku perhatikan mentari yang semula begitu indah, namun yang kulihat sebaliknya. Rasanya mentari begitu menyeramkan, seakan ingin membakar sekujur tubuh ini. Ku coba tengok burung-burung yang semula seperti bernyanyi dengan syahdu, memang burung-burung masih bernyanyi namun seperti menyanyikan sebuah lagu kematian yang begitu menakutkan. Lalu aku coba berpaling ke air di parit-parit dekat rumahku yang semula seakan merangkai nada. Lagi-lagi yang aku dapat sebaliknya. Suara gemericik air seakan suara air bah yang siap menenggelamkanku. Benakku berontak. “Mengapa semua begitu membuat aku sakit?”. Namun belum sempat aku berfikir, rasa sakit ini kian menggerogoti jiwa dan pikiranku. Bahkan untuk berfikir satu detik pun rasanya tidak sanggup.

Aku menyerah. Tak ada yang mampu mengobati semua rasa sakit ini. Semua kesakitan ini seakan membuat aku harus menyerah dan menyudahi segala keperkasaanku selama ini. Aku tergeletak, namun kesakitan ini tetap tak mau beranjak dari tubuhku. Aku diam namun tak diam. Aku bergerak namun tak bergerak. Seluruh tubuh dan jiwaku seakan dikuasai oleh kesakitan ini. Hanya ketidaksakitan yang bisa mengusir kesakitan ini. Aku pasrah.

Ketika kesakitan ini mulai reda dan sedikit menyingkir dari tubuh yang lemah ini, aku mulai sadar dan menyesali segala perbuatanku yang sudah berlalu. Perkataan ibuku untuk rajin membersihkan gigi ini dahulu aku anggap seperti angin lalu. Comercial break di televisi tentang pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut aku anggap angin lalu saja.

Kini setelah semuanya terlambat, aku sadar sesadar-sadarnya bahwa perkataan orang tua dan iklan-iklan yang dahuu kala aku anggap angin lalu adalah sebuah kebenaran sejati yang kesejatiannya mendekati wahyu dari Tuhan. Aku menjadi teringat akan sabda Nabi yang berbunyi, “jagalah kebersihan, karena kebersihan adalah sebagian dari iman”. Aku menyesal. Imanku tidak sempurna. Kini aku dihukum oleh Tuhan dan alam. Kuman-kuman menguasai mulutku. Seandainya aku tahu semua akan seperti ini, mungkin aku akan sangat rajin untuk membersihkan gigi dan mulutku. Seandainya bisa, akan aku bersihkan gigiku sampai tidak ada gigi sehingga aku tidak pernah akan merasakan sakit gigi.

Namun kini semua sudah terlambat. Selain menyesali semua, aku hanya ingin berpesan kepada sanak saudaraku semua. BERSIHKAN GIGIMU. Percayalah, lagu “Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati” itu benar-benar bulshit. Kalau kita sakit hati, kita masih dapat makan dan melupakan sakit hati. Kalau kita sakit gigi, jangankan untuk makan, bahkan berfikir ingin makan saja sudah membuat semakin sakit. Kalau kita sakit hati karena mantan yang meninggalkan kita ketika sedang sayang-sayangnya, justru itu bisa membuat kita bisa terpacu untuk berkarya dengan baik dan membuat mantan kita ingin balikan. Tapi kalau gigi yang sakit, jangankan berfikir untuk berkarya. Lalat yang hinggap di tubuh kita itu pun seakan-akan menertawakan penderitaan kita.